Inilah Adab-adab terhadap Allah yang Wajib Kita Pahami (Part 1)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An-Nahl : 18)
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ
Baca ini terlebih dahulu https://www.ilyasnandar.online/p/copyright-hak-cipta.html sebelum melakukan copy dan paste.
Ilyasnandar.online – Sebagai manusia pada umum-nya terkadang kita sangat menjunjung tinggi norma dan adab serta adat istiadat di wilayah kita tinggal. Kita biasa diajarkan oleh orang tua kita, saudara, tetangga dan bahkan lingkungan kita tentang hal-hal tersebut, sehingga tidak sedikit diantara kita yang berusaha untuk sangat menjunjung tinggi semua hal tersebut.
Menjaga adab, sopan santun, estetika dan tata krama itu adalah sebuah hal yang baik, dan justru dianjurkan. Bahkan menjaga adat istiadat pun selama adat istiadat tersebut terbukti tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka hal tersebut tidaklah mengapa.
Namun, dengan semua hal diatas yang telah kita jaga dengan baik terkadang kita melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang mustinya kita dahulukan dari semua hal yang saya tulis di atas. Dan hal yang sangat penting itu adalah terkait adab kepada Allah azza wa jalla. Rabb-ku dan Rabb kalian semua yang setiap hari meihat dan mengawasi kita.
Sudahkah kita tahu dan memahami apa saja adab kepada Allah azza wa jalla? Jika sudah, apakah kita sudah mengamalkan serta mendakwahkannya?
Ikhwah fillah pembaca setia Ilyasnandar.online dimana saja anda berada. Sesungguhnya saya mengajak diri saya sendiri dan anda sekalian terkait hal yang sangat penting ini. Yakni, mempelajari, memahami, menjaga, mengamalkan dan mendakwahkan terkait adab kepada Allah azza wa jalla. Maka dari itu, dalam tulisan kali ini, in shaa Allah saya ingin menulis artikel berseri yang berjudul Inilah Adab-adab terhadap Allah yang Wajib Kita Pahami (Part 1) semoga Allah memudahkan saya untuk menuliskannya, in shaa Allah.
1. Bersyukur atas segala nikmat dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Azza wa Jalla
Salah satu adab yang paling penting untuk kita pahami adalah kita sebagai seorang muslim diwajibkan untuk bersyukur kepada Allah terkait semua hal yang Allah berikan, baik berupa rezeki, keberkahan, pengalaman hidup, hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dan yang masih banyak lainnnya lagi, karena kita tahu bahwa nikmat Allah begitu banyak dan seandainya kita menghitung nikmat Allah maka niscaya kita tidak akan mampu menghutungnya.
Hal ini sebagaimana firman Allah azza wa jalla berikut ini:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ
“ Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Q.S An-Nahl : 53)
Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di –Rahimahullahu- dalam menafsirkan ayat ini beliau berkata “53. Dan apa saja nikmat yang ada padamu” nikmat lahiriah ataupun batiniah, ”maka dari Allah lah (datangnya)” tiada seorangpun yang menyertai Allah di dalamnya, ”kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan” baik berupa kemiskinan, penyakit, dan keadaan yang menyulitkan, ”maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan” maksudnya mendengung dengungkan doa dan permohonan karena kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang sanggup menyingkirkan keburukan dan kesengsaraan selain Dia. Dialah satu satunya Dzat yang memegang kendali pencurahan karunia kepada kalian berupa apa saja yang kalian inginkan, dan membelokkan apa saja yang kalian benci. Dialah Dzat yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali diarahkan kepada-Nya.”[1]
Juga firman Allah azza wa Jalla:
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An-Nahl : 18)
Terkait ayat ini Asy-Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi –Rahimahullahu- menjelaskan sebagaimana di bawah ini:
Makna kata: (لَا تُحۡصُوهَآۗ) laa tuhshuuhaa: “niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” Jumlahnya secara pasti, terlebih dari mensyukuri nikmat dari Sang Pemberi Nikmat ta’ala.
Makna ayat: Firman-Nya “Dan seandainya kalian menghitung nikmat-nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” Setelah menyebutkan banyak nikmat pada ayat-ayat sebelumnya, Allah mengkabarkan kepada manusia bahwa seandainya mereka ingin menghitung nikmat Allah, niscaya mereka tidak akan mampu, terlebih lagi mensyukuri seluruhnya, oleh karena itu Allah berfirman “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Jika saja Allah tidak seperti ini, niscaya Dia akan menghukum seluruh kelalaian mereka karena kurang mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, dan mencabutnya dari mereka tatkala mereka mengingkari nikmat tersebut dan enggan mengakui Allah sebagai pemberi kenikmatan ‘azza wa jalla.
Pelajaran dari ayat: Ketidakmampuan manusia untuk mensyukuri seluruh nikmat Allah ta’ala. Seorang hamba dituntut untuk mensyukuri apa yang dia mampu (untuk disyukuri), dan perkataan Alhamdulillah termasuk dari inti dari syukur. Pengakuan akan ketidak mampuan untuk bersyukur termasuk bagian dari syukur. Dan termasuk syukur adalah menggunakan nikmat untuk memperoleh kembali nikmat Allah ta’ala.[2]
Kemudian,
Ibnu Katsir juga menjelaskan dalam kitab tafsirnya (4: 675), “Allah benar-benar memaafkan kalian. Jika kalian dituntut untuk mensyukuri semua nikmat yang Allah beri, tentu kalian tidak mampu mensyukurinya. Jika kalian diperintah untuk mensyukuri seluruh nikmat tersebut, tentu kalian tidak mampu dan bahkan enggan untuk bersyukur. Jika Allah mau menyiksa, tentu bisa dan itu bukan tanda Allah itu zholim. Akan tetapi, Allah masih mengampuni dan mengasihi kalian. Allah mengampuni kesalahan yang banyak lagi memaafkan bentuk syukur kalian yang sedikit.”[3]
Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Sesungguhnya Allah memaafkan kekurangan kalian dalam bersyukur. Jika kalian bertaubat, kembali taat dan ingin menggapai ridho Allah, Dia sungguh menyayangi kalian dengan ia tidak akan menyiksa kalian setelah kalian betul-betul bertaubat."[4]
Dari kedua ayat diatas beserta tafsir dari para Ulama telah di jelaskan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki dan juga Allah tempat kita berlindung dan bergantung serta memohon pertolongan. Maka hal sederahana untuk ber-adab kepada Allah Azza wa Jalla adalah dengan memperhatikan dua hal tersebut dengan seksama, kemudian mencoba mengamalkannya setiap hari dan setiap waktu serta mencoba untuk mendakwahkannya kepada orang-orang yang kita sayangi serta orang-orang yang kita harapkan dapat berubah menjadi lebih baik biidznillah.
Kemudian muncul pertanyaan, bagaimanakah cara mengamalkannya?
Mengamalkan ayat diatas bisa kita lakukan dengan banyak bersyukur terhadap nikmat Allah baik yang kecil maupun besar. Misalnya saja bersyukur setiap kali usai makan, karena kita tahu bahwa makanan yang kita makan adalah rezeki dari Allah azza wa jalla. Dan, kemudian kita bisa juga bersyukur usai shalat lima waktu atau usai shalat sunnah atau pun selesai beramal shalih karenanya dengan taufiq, hidayah dan hikmah Allah, kita telah dipilih-Nya untuk melakukan amal shalih, telah dipilih-Nya sebagai seorang muslim yang merupakan tiket untuk menuju jannah-Nya, in shaa Allah. Tentu semua hal tersebut haruslah kita syukuri.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs. Adh Dhuha: 11)
Kemudian sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734).
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam juga mengajarkan kepada kita untuk terus memuji Allah meskipun kita ditimpa sesuatu, melihat atau menjumpai sesuatu yang tidak kita sukai. Hal ini sebagaimana tercantum dalam hadits berikut ini:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ
قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».
Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” (HR Ibnu Majah no 3803).
Semoga Allah senentiasa menjadikan kita sebagai seorang hamba yang pandai bersyukur dengna nikmat-Nya. Dan semoga Allah selalu menambahkan nikmat yang lebih banyak lagi dari syukur kita tersebut. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin.
Demikian tulisan singkat saya kali, semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan dapat menambah keimaanan serta ketaqwaan kita kepada Allah azza wa jalla. In shaa Allah saya akan melanjutan menulis part ke-2 secepatnya, biidznillah, mohon doa antum agar Allah melancarkan dakwah fii sabilillah ini. Apabila anda merasa bahwa tulisan saya bermanfaat, silahkan share artikel ini di mana saja dan sebanyak-banyaknya, in shaa Allah ini bisa menjadi ladang amal jariyyah kita bersama-sama. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin. (INR)
واخر دعوانا والحمد لله رب العالمين
___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Footnote list:
[1] https://tafsirweb.com/4401-quran-surat-an-nahl-ayat-53.html
[2] https://tafsirweb.com/4366-quran-surat-an-nahl-ayat-18.html
[3] Lihat: Kitab Tafsir Imam Ibnu Katsir terkait ayat ini
[4] Lihat: Jami’ul Bayan fii Ta’wil Ayyil Qur’an, 8: 119
Refrences:
1. Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Hal. 158. Solo. 2014. Pustaka Arafah.

Tidak ada komentar: