Mengenal 10 Pembatal Ke-Islaman yang WAJIB Kita Pahami (Part 1)
Efek dari hal tersebut adalah bahwa studi-studi tentang aqidah menjadi langka, menakutkan, asing dan menjadi hal yang sepertinya dihindari untuk dibahas karena dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan. Padahal sejatinya, permusuhan dan kebencian itu lahir karena tidak adanya pemahaman yang benar sehingga ketika kita berusaha mendakwahkan al-haq maka tidak sedikit manusia yang menjadi marah dan tidak sedikit pula yang memusuhi dakwah kita.
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ
Ilyasnandar.online – Sebagai seorang muslim adalah penting memiliki pengetahuan dan pemahaman akan aqidah yang kuat dan lurus sesuai manhaj ahlussunah wal jama’ah dengan pemahaman para salafus shalih. Hal ini dikarenakan Aqidah adalah hal yang sangat penting untuk pertama kali dipelajari oleh kaum muslimin. Namun pada era sekarang ini telah kita dapati banyak diantara kaum muslimin yang jahil dari pada ilmu aqidah namun berlomba-lomba mempelajari fiqh ibadah dan muamalah dalam berbagai kajian-kajian.
Efek dari hal tersebut adalah bahwa studi-studi tentang aqidah menjadi langka, menakutkan, asing dan menjadi hal yang sepertinya dihindari untuk dibahas karena dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan. Padahal sejatinya, permusuhan dan kebencian itu lahir karena tidak adanya pemahaman yang benar sehingga ketika kita berusaha mendakwahkan al-haq maka tidak sedikit manusia yang menjadi marah dan tidak sedikit pula yang memusuhi dakwah kita.
Oleh karena itu penulis memandang penting bahwa mempelajari aqidah merupakan hal yang urgent karena aqidah sendiri merupakan ilmu ushul (Pokok) yang tentunya wajib kita dahulukan dari pada mempelajari hal-hal yang bersifat furuq (Cabang) seperti mempelajari fiqh dan yang lainnya dengan catatan tanpa meremehkan cabang ilmu yang lain.
Dalam tulisan kali ini, penulis ingin membahas tentang 10 pembatal ke-Islaman yang in shaa Allah penulis akan membaginya menjadi 10 part berseri agar lebih mudah di pahami oleh kaum muslimin di mana saja berada. Dan untuk tulisan pertama ini penulis akan konsentrasi pada pembatal ke-Islaman yang pertama, yakni:
1. Syirik kepada Allah
Syirik merupakan sebuah dosa yang paling besar diantara seluruh dosa-dosa besar yang ada. Dan syirik merupakan dosa yang pertama kali harus kita hindari dan harus kita dakwahkan akan bahaya-nya. Syirik merupakan dosa yang sangat luar biasa besar karena apabila seseorang melakukan amalan ke-syirik-an dan dia mati tanpa belum melakukan tobat nasuha maka sesunguhnya dia telah merugi dengan sebenar-benarnya. Hal ini dikarenakan dosa syirik tidak lah dapat di ampuni jika seseorang meninggal tanpa bertobat. Dengan kata lain jika seseorang melakukan dosa selain syirik dan belum bertaubat dan meninggal dunia maka orang tersebut masihlah mungkin di ampuni oleh Allah azza wa jalla atas dosa tersebut.
Namun tidak terhadap dosa syirik.
Dosa syirik bisa di ampuni oleh Allah azza wa jalla dengan syarat orang yang melakukan amalan syirik tersebut telah bertaubat dan memohon ampun akan perbuatan syirik-nya tersebut selama masih hidup di dunia. Sehingga setelah orang tersebut meninggal in shaa Allah dosa-nya akan di ampuni oleh Allah azza wa jalla. Hal ini sebagaimana tercantum dalam nash berikut ini:
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ
مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى
إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah,
maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)
Dalam kitab tafsir Jalalayn terkait ayat ini dijelaskan:
(Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni bila Dia dipersekutukan) artinya tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya (dan Dia akan mengampuni selain dari
demikian) di antara dosa-dosa (bagi
siapa yang dikehendaki-Nya) beroleh ampunan, sehingga dimasukkan-Nya ke
dalam surga tanpa disentuh oleh siksa. Sebaliknya akan disiksa-Nya lebih dulu
orang-orang mukmin yang dikehendaki-Nya karena dosa-dosa mereka, dan setelah
itu barulah dimasukkan-Nya ke dalam surga.
(Siapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang
besar).[1]
Allah Ta’ala juga berfirman:
إِنَّهُ
مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ
النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik
terhadap Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu
seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata,
“Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik yaitu ketika seorang hamba
bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik.” [2]
Kemudian Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu perihal hal
ini juga menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni pelaku syirik yang mati
dalam kesyirikan.[3]
Ayat dan penjelasan diatas menerangkan kepada kita bahwa dosa-dosa
syirik adalah dosa yang tidak di ampuni oleh Allah apabila mereka tidak
bertaubat selama hidup di dunia. Namun, apabila seseorang mau bertaubat di
dunia dan memohon ampun kepada Allah atas semua dosa-dosa yang ia lakukan,
bahkan termasuk dosa syirik sekalipun, maka Allah pastilah akan mengampuninya.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ
رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(QS. Az Zumar: 53).
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda:
مَن
مات لا يشركُ باللهِ شيئًا دخل الجنةَ ، ومَن مات يشركُ باللهِ شيئًا دخل النارَ
“Barangsiapa yang mati, tanpa berbuat
syirik kepada Allah sedikitpun, ia masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan membawa dosa syirik, maka ia
masuk neraka” (HR. Muslim no. 93).
Selain itu, dosa syirik adalah termasuk
dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar lainnya. Hal ini di jelaskan
dalam shahih hadits berikut ini:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali jika lewat jalan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina.” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)
Dengan semua nash dan juga penjelasan dari para ulama di atas maka kita simpulkan bahwa dosa syirik adalah hal yang seharusnya di dakwahkan oleh banyak para du’at illallahu di seluruh dunia baik dalam website mereka, dalam mimbar-mimbar, dan juga media-media mereka. Ini adalah hal yang paling urgent, yang paling mendesak. Karena banyak sekali hari ini mereka yang mungkin saja banyak memahami praktik ibadah dan muamalah namun mereka tanpa sadar melakukan amalan yang membuat mereka keluar dari agama Islam disebabkan ke-syirikan yang mereka tidak pahami.
Ini adalah hal yang sangat ironis.
Karena menurut penulis hal itu adalah hal yang percuma jika seorang ahli ibadah melakukan amal ke-syirik-an dan kemudian mati tanpa tahu bahwa amalan kesyirikan yang ia lakukan tersebut adalah mengandung ke-syirikan maka hal tersebut adalah hal yang sangat fatal, hal yang sangat merugikan. Hal ini bukanlah tanpa alasan, melainkan ini adalah sebuah hukum. Yakni, jika seseorang melakukan amalan ke-musyrik-an dan ia tidak menyadari bahwa perbuatan tersebut adalah ke-musyrik-an maka orang tersebut tetaplah di hukumi sebagai seorang musyrik.
Hal ini sebagaimana penjelasan di bawah ini:
Allah azza wa jalla tetap menjuluki seseorang dengan sebutan musyrikin ketika mereka memang tidak mengetahui hakikat kemusyrikannya tersbut. Hal ini disebutkan dalam firman Allah azza wa jalla dibawah ini:
وَإِنْ
أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ
اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا
يَعْلَمُونَ
“Dan jika seseorang dari orang-orang
musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia
sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia yang aman baginya.
Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah : 6)
Al Imam Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah berkata di dalam tafsirnya
terhadap ayat ini; “Allah Ta’aala berkata kepada Nabi-Nya; Apabila ada yang
minta perlindungan kepadamu wahai Muhammad seseorang dari musyrikin yang Aku telah
perintahkan kepadamu untuk memerangi mereka dan membunuhi mereka setelah
berlalunya bulan-bulan haram…maka lindungilah dia sampai dia mendengar Kalamullah yang kamu bacakan
kepadanya…dan apabila mereka menolak masuk Islam kembalikanlah mereka ke tempat
yang aman. Yang demikian itu karena
mereka adalah kaum yang jahil, tidak memahami hujjah Allah dan tidak mengetahui
ganjaran apa yang akan mereka terima jika mereka beriman dan hukuman apa yang
akan mereka derita dan dosa apa yang mereka tanggung disebabkan tidak mau
beriman. [4]
Dengan memahami penjelasan di atas kini kita sekarang tahu bahwa kita di wajibkan untuk menghindari kemusyrikan. Mendekati saja tidak boleh apalagi melakukannya, waiyyadubillahi. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang? Yang harus kita lakukan sekarang adalah menjauhi perbuatan kemusyrikan dan mengajak manusia untuk menjauhi kemusyrikan. In shaa Allah ini adalah hal yang akan mendatangkan ridha Allah azza wa jalla.
Kemudian mungkin saja para pembaca Ilyasnandar.online setelah membaca artikel ini bertanya-tanya tentang apa saja perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan yang musyrik atau perbuatan mukafiroh (menyebabkan seseorang menjadi kafir) itu? Baiklah, mari kita perhatikan lebih lanjut.
Menyukutukan Allah azza wa jalla
Apabila seseorang menyekutukan Allah dengan selain dari pada Allah, mengatakan bahwa Allah itu adalah satu diantara yang tiga. Atau misalnya saja ada rabb (Tuhan) selain Allah yang bisa membuat dan mengatur alam semesta ini, atau Allah mempunyai partner dalam urusan mengatur alam semesta ini, atau menganggap bahwa ada yang lebih mulia atau sejajar dengan Allah dan pemahaman yang semisal. Maka barang siapa mempunyai pemikiran seperti yang penulis jelaskan diatas, dengan mudah bisa kita simpulkan keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik dan pelakunya WAJIB untuk bertaubat dengan taubatan nasuha. Seluruh contoh perbuatan syirik yang penulis sebutkan diatas semuanya mempunyai dasar dalil yang kuat berdasarkan dengan nash. Hal ini sebagaimana penjelasan lebih lanjut di bawah ini;
Terkait doktrin trinitas atau yang berhubungan dengan nabi Isa alaihissalam, Allah azza wa jalla, berfirman:
(لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ
اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ
يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ)
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al Maidah: 73)
Juga,
Allah Ta’ala juga berfirman,
لَقَدْ
كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang
yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera Maryam”. (QS. Al
Maidah: 17)
Bahkan Nabi Isa alaihihissalam dengan tegas menolak pemahaman bathil yang di
sematkan kepadanya sesuai dengan firman Allah di bawah ini:
(وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ
مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ
اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ
مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ)
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu
mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain
Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci
Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa
yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.
Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al Maidah:
116)
Allah azza
wa jalla juga berfirman terkait ke-Esa-an-Nya dalam surah Al-Ikhlas ayat
1-4:
قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3)
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)} [الإخلاص
: 1-4]
Artinya:
( 1 )
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa."
( 2 )
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
( 3 )
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
( 4 )
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
Juga,
قُلِ
ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ
وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ “
Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya." (Q.S Saba’ : 22)
Kemudian,
وَمَنْ
يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ
عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain bersama Allah, padahal tidak
ada satu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di
sisi Rabb-nya. Sesungguhgnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Q.S Al-Mukminuun : 117)
Dan,
لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ
لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Artinya:
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya
itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa
yang mereka sifatkan. (Q.S Al-Anbiya : 22)
Terkait
surah Al-Anbiya ayat 22 diatas, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullahu berkata:
“Orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di TanganNYa-lah terdapat (kendalli) segala urusan, manfaat, dan bahaya.
Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberuntungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezhalimannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb).
Karenanya, Allah berfirman, “Sekiranya di dalam keduanya,” yaitu di langit dan bumi “terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa,” pada bentuk keduanya, dan rusak pula makhluk-makhluk yang berada di dalamnya.
Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengaturnya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya aan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, keduanya-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya realisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan.
Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, sementara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh perkara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini , Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu’ (kontradiktif) dengan Firman-NYa,
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu," (Al-Mu’minun:91), senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut berdasarkan salah satu tafsirannya,
" Katakanlah: "Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai Arasy". Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra:42-43).
Karenanya, Allah berfirman, “Maka Mahasuci Allah,” Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNYa “Yang mempunyai ‘Arasy,” yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal “dari apa yang mereka sifatkan,” yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.”[5]
Dengan memahami dalil-dalil dan penjelasan diatas, alhamdulilah sesungguhnya hari ini kita telah mendapatkan hidayah dari Allah, dan semoga kita mau untuk menerima hidayah Allah tersebut dan mau untuk turut andil dalam berdakwah dengan cara menyebarkan hidayah ini kepada orang-orang yang kita sayangi dan yang kita harapkan mendapatkan hidayah dari Allah azza wa jalla.
Semoga tulisan saya yang sedikit ini dapat bermanfaat untuk pembaca Ilyasnandar.online dimanapun saja berada, juga untuk seluruh kaum muslimin pada umumnya. In shaa Allah dalam artikel kedepan penulis berencana akan menjelaskan secara detail terkait apa saja macam-macam dari 10 pembatal ke-Islam-an, biidznillah. Semoga Allah azza wa jalla memudahkan niat saya, melancarkan semua usaha saya, dan meridhai semua usaha saya, serta mengampuni semua dosa-dosa saya.
Apabila pembaca merasa bahwa tulisan ini bermanfaat, silahkan anda share tulisan ini sebanyak-banyaknya kepada seluruh kaum muslimin yang anda kenal. Saya berdoa kepada Allah azza wa jalla semoga hal ini bisa menjadi salah satu dari amalan jariyyah kita bersama.
Barakallahu fiikum. (INR)
واخر دعوانا والحمد لله رب العالمين

Casino Bonus Codes - December 2021
BalasHapusNo poormansguidetocasinogambling.com deposit bonus casino https://deccasino.com/review/merit-casino/ promotions. We recommend 2021 casino bonus codes and promos for https://tricktactoe.com/ new https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ players. We casinosites.one also list new casino bonuses for December 2021.